SehatQ
SehatQ Cart
SehatQ Profile

Zestam Tablet (1 Strip @ 10 Tablet)


Harga Produk
Rp 0

Jumlah Produk
0

logo-prescription
Obat ResepKirimkan resep ke alamat email apotek@sehatq.comJumlah pembelian obat terbatas.SehatQ memiliki kewenangan untuk tidak memproses pesanan lebih lanjut jika resep tidak dapat diverifikasi.

Deskripsi

Nikmati promo GRATIS ongkir ke seluruh Indonesia. Temukan kode promonya di sini.

Zestam Tablet (1 Strip @ 10 Tablet)
Golongan Obat
Obat Keras
Informasi Tambahan
obat resep
Kandungan Utama
Betamethasone dan dexchlorpheniramine maleate
Kelas Terapi
Antiinflamasi dan antihistamin.
Klasifikasi
Glukokortikoid
Kemasan
1 strip @ 10 tablet
Produsen
Dankos Farma

Informasi Zat Aktif

Betamethasone adalah obat golongan kortikosteroid. Obat ini merangsang produksi enzim yang dibutuhkan untuk meredakan peradangan. Cara kerja obat ini adalah dengan menginduksi lipase penghambat fosfolipase A2 (lipokortin) dan secara berurutan menghambat pelepasan asam arakidonat, sehingga menekan aktivitas prostaglandin sebagai penyebab peradangan.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, betamethasone diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Mudah diserap dari saluran pencernaan.
  • Distribusi: Mudah melewati plasenta dan memasuki ASI.
  • Metabolisme: Dimetabolisme terutama di hati.
  • Ekskresi: Melalui urine dan feses.

Dexchlorpheniramine adalah obat golongan antihistamin yang mencegah produksi histamin untuk menekan gejala alergi. Histamin adalah zat alami yang dilepaskan tubuh saat terjadi reaksi alergi. Zat inilah yang menimbulkan gejala alergi, seperti bersin dan pilek.

Berdasarkan proses kerja obat dalam tubuh, dexchlorpheniramine diketahui memiliki status:

  • Absorpsi: Diserap dengan baik dari saluran cerna. Makanan di perut dapat menunda penyerapan tetapi tidak mempengaruhi kadar obat yang masuk ke dalam peredaran darah (ketersediaan hayati).
  • Distribusi: Didistribusikan secara luas ke dalam tubuh.
  • Metabolisme: Metabolisme sebagian besar di sel mukosa saluran cerna dan hati.
  • Ekskresi: Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh) adalah 12-43 jam pada orang dewasa dan 10-13 jam pada anak-anak. Obat diekskresikan dalam urine.

Indikasi (manfaat)

Mengatasi berbagai alergi dan peradangan, seperti:

  • Peradangan pada rongga hidung karena reaksi alergi (rhinitis alergi), baik yang terjadi sepanjang tahun (perennial) atau musiman.
  • Alergi pada kulit, seperti biduran (urtikaria) serta pembengkakan di sekitar mata, pipi, dan bibir (angioedema).
  • Peradangan pada permukaan bola mata karena reaksi alergi, sehingga menyebabkan mata kemerahan (alergi konjungtivitis).
  • Peradangan yang memerlukan terapi obat kortikosteroid, seperti peradangan kulit.

Betamethasone digunakan untuk mengobati penyakit autoimun dan peradangan pada organ tubuh (sarkoidosis). Selain itu, betamethasone juga digunakan untuk mengatasi penyakit sendi dan otot, misalnya peradangan pada sendi karena sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri (rheumatoid arthritis), serta alergi dan asma.

Dexchlorpheniramine merupakan obat antialergi. Selain histamin, dexchlorpheniramine juga memblokir zat alami lain yang dibuat oleh tubuh, yaitu asetilkolin, sehingga dapat membantu mengurangi gejala, seperti mata berair dan pilek.

Komposisi

  • Betamethasone 0,25 mg
  • Dexchlorpheniramine maleate 2 mg

Dosis

Dewasa dan anak-anak berusia 12 tahun ke atas: 1-2 tablet sebanyak 3-4 kali/hari. Maksimal: 8 tablet/hari.

Anak-anak:

  • 2-6 tahun: ¼-½ tablet sebanyak 3 kali/hari.
  • 6-12 tahun: ½-1 tablet sebanyak 3 kali/hari.

Aturan pakai

Sebaiknya diberikan bersama makanan atau susu untuk mengurangi efek samping pada lambung dan usus.

Perlu Resep

Ya

Efek Samping

  • Diare.
    Minumlah sedikit air, tetapi dalam waktu sering. Bicaralah dengan apoteker jika Anda memiliki tanda-tanda dehidrasi, seperti buang air kecil lebih jarang dari biasanya atau urine berwarna gelap dan berbau menyengat. Jangan minum obat lain untuk mengobati diare tanpa berbicara dengan apoteker atau dokter.
  • Muntah.
    Minumlah banyak air untuk menggantikan cairan yang hilang dan mencegah terjadinya dehidrasi. Dehidrasi ditandai dengan penurunan frekuensi dan jumlah urine, serta urine berwarna gelap dan berbau menyengat. Konsumsi makanan sederhana dan hindari makanan kaya rasa seperti makanan pedas.
  • Sakit perut.
    Istirahatkan tubuh Anda agar rileks. Makan dan minum secara perlahan dalam porsi lebih sedikit dan lebih sering dapat membantu mengurangi efek samping. Anda juga bisa mengurangi efek samping dengan mengompres perut menggunakan bantalan atau botol air panas.
  • Sakit kepala ringan.
    Istirahat dan tidur yang cukup akan membantu Anda lebih rileks. Jika Anda duduk dalam waktu lama, bangun dan sering-seringlah bergerak. Lemaskan otot rahang, leher, dan bahu Anda.
  • Mual ringan.
    Cobalah mengonsumsi makanan ringan dan hindari makanan berat atau pedas. Minumlah obat ini setelah makan. Hubungi dokter jika gejala berlangsung lebih dari beberapa hari atau semakin memburuk.
  • Pemakaian jangka panjang dan dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati.
  • Gangguan tidur.
  • Kulit kemerahan.
  • Gangguan pernapasan.
  • Kesulitan buang air besar (konstipasi).
  • Detak jantung melebihi 100 kali/menit (takikardia).
  • Rasa tidak nyaman pada perut (dispepsia).
  • Pusing.
  • Mulut kering.

Cara Penyimpanan

Simpan di tempat kering dan sejuk pada suhu di bawah 30 °C. Jauhkan dari cahaya matahari langsung.

Perhatian Khusus

  • Pasien yang mengalami peningkatan tekanan bola mata (glaukoma).
  • Pasien penderita infeksi jamur sistemik yang menyerang organ dalam tubuh.
  • Pasien dengan kondisi jantung yang tidak mampu memompa darah berisi oksigen ke seluruh tubuh (gagal jantung kongestif).
  • Pasien penderita luka pada dinding lambung (tukak lambung).
  • Pasien yang kesulitan membedakan imajnasi dan kenyataan.
  • Pasien penderita gangguan fungsi ginjal dan hati.
  • Pasien yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh.
  • Pasien yang mengalami pengeroposan tulang (osteoporosis).
  • Pasien penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Pasien penderita peradangan usus.
  • Pasien penderita infeksi virus.
  • Pasien lanjut usia.
  • Hindari penghentian terapi secara mendadak.
  • Pasien penderita serangan jantung (infark miokardium).
  • Pasien penderita asma.
  • Wanita yang sudah menopause.

Kategori Kehamilan

Betamethasone:
Kategori C: Belum terdapat penelitian terkontrol untuk penggunaan Zestam tablet pada ibu hamil. Namun, ada efek samping yang mungkin dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan janin.
Oleh karena itu, penggunaannya pada ibu hamil hanya dapat dilakukan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin.
Konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter sebelum digunakan.

Dexchlorpheniramine maleat:
Kategori B: Penelitian tidak menemukan efek malformasi atau efek yang mengganggu perkembangan janin pada trimester pertama dan selanjutnya.
Studi pada reproduksi hewan telah membuktikan tingkat keamanan obat ini.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Penggunaan Colergis tablet untuk bayi baru lahir atau lahir prematur.
  • Pasien penderita infeksi jamur sistemik yang memengaruhi organ dalam tubuh.
  • Pasien yang mengonsumsi obat penghambat monoamin oksidase (MAOI) untuk mengatasi depresi.
  • Pasien yang memiliki alergi terhadap komponen obat ini.
  • Pasien penderita luka pada dinding lambung dan usus 12 jari.
  • Pasien penderita penyakit herpes simplex.
  • Ibu menyusui.
  • Pasien yang menerima vaksin.
  • Penggunaan obat ini dalam dosis tinggi.

Interaksi (jangan digunakan bersamaan dengan)

  • Obat NSAID, misalnya aspirin.
    Penggunaan bersama aspirin dapat meningkatkan risiko perdarahan pada saluran pencernaan.
  • Ketoconazole.
    Ketokonaol dapat mengurangi metabolisme obat ini, sehingga kadar dan efek obat ini akan meningkat.
  • Aminoglutemid.
    Aminoglutemid dapat menurunkan kadar betamethasone, sehingga efeknya akan berkurang.
  • Obat penghambat monoamin oksidase (MAOI).
    Penggunaan bersama MAOI dapat memperpanjang efek yang dapat mempengaruhi saraf (antikolinergik), sehingga dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti mulut kering, penglihatan kabur, dan sembelit.
  • Fenitoin, barbiturat, karbamazepin, dan rifampisin.
    Penggunaan bersama obat di atas dapat meningkatkan metabolisme, sehingga dapat menurunkan kadar dan efek kortikosteroid.
  • Estrogen dan kontrasepsi oral.
    Obat di atas dapat menurunkan metabolisme kortikosteroid, sehingga efek obat ini akan meningkat.
  • Glikosida digitalis.
    Penggunaan bersama glikosida digitalis dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung.
  • Obat untuk merangsang eksresi urine (diuretik) dan obat untuk mengatasi infeksi jamur (amfoterisin B).
    Penggunaan bersama obat di atas dapat menyebabkan penurunan kadar kalium dalam darah (hipokalemia).
  • Vaksin.
    Betamethasone dapat menurunkan kekebalan tubuh, sehingga dapat memicu terjadnya infeksi.
  • Ephedrin dan kolestiramin.
    Ephedrin dan kolestiramin dapat meningkatkan pengeluaran kortikosteroid, sehingga efek dan kadar obat ini akan menurun.
  • Isoniazid.
    Obat ini dapat menurunkan kadar isoniazid, sehingga efek isoniazid akan berkurang.
  • Obat pengontrol gula darah (antidiabetik).
    Obat ini dapat meningkatkan kadar gula dalam darah.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan mengonsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali atas anjuran dokter.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa mengonsumsi obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter?

Hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Tanda-tanda reaksi alergi, seperti ruam, gatal, kulit merah, melepuh, atau mengelupas dengan atau tanpa demam, sesak di dada atau tenggorokan, kesulitan bernapas, menelan, atau berbicara, serta pembengkakan pada mulut, wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
  • Tidak bisa buang air kecil atau perubahan jumlah urine yang dikeluarkan.
  • Memar atau pendarahan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Perasaan terbakar, mati rasa, atau kesemutan yang tidak normal.
  • Pusing yang sangat parah.
  • Perubahan penglihatan.
  • Perubahan keseimbangan.
  • Merasa sangat lelah atau lemah.
  • Demam atau kedinginan.
  • Sakit tenggorokan.
  • Telinga berdenging.
  • Banyak berkeringat.
  • Kejang.
SehatQ
Belum Ada UlasanJadilah yang pertama untuk mengulas produk ini.
Nama Produk

Zestam Tablet (1 Strip @ 10 Tablet)