SehatQ
SehatQ Profile
Sanprima suspensi 60 ml adalah obat yang berguna untuk pengobatan infeksi saluran kemih, infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran pernafasan dan infeksi THT.

Sanprima Suspensi 60 ml


Harga Produk
Mulai dari
Rp 31.175

Jumlah Produk
1

Tersedia 106 Penjual

Apotek Kota Bambu
Rp 35.100
Apotek Kota Bambu
Kota Jakarta Barat2.96 km
Apotek Garuda
Rp 32.288
Apotek Garuda
Kota Jakarta Barat3.25 km
Apotek Sari Suci
Rp 37.343
Apotek Sari Suci
Kota Jakarta Pusat3.29 km
Apotek Plaza Medika Grogol
Rp 34.900
Apotek Plaza Medika Grogol
Kota Jakarta Barat3.59 km
logo-prescription
Obat ResepPembelian, dosis, dan penggunaan obat ini harus sesuai petunjuk dokter. Kami segera menghubungi Anda untuk membantu proses transaksi.

Deskripsi

Sanprima adalah obat yang berguna untuk pengobatan infeksi saluran kemih, infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran pernafasan dan infeksi THT. Obat ini merupakan obat keras yang membutuhkan resep dokter. Sanprima mengandung zat aktif trimetoprim dan sulfametoksazol.

Beli obat online di Toko SehatQ - Pasti asli!

Nikmati promo GRATIS Ongkir ke seluruh Indonesia. Temukan kode promonya di https://toko.sehatq.com/voucher

Indikasi (manfaat)

Infeksi saluran kemih:

  • Infeksi pada organ ginjal (pielonefritis).
  • Peradangan pembuluh darah (pielitis).
  • Peradangan pada kelenjar prostat (prostatis) akut dan kronis.

Infeksi saluran pencernaan:

  • Tipes.
  • Penyakit infeksi bakteri yang menyerang usus dan aliran darah (Paratifoid) 
  • Peradangan usus yang bisa menyebabkan diare disertai darah atau lendir (Disentri basiller).

Infeksi saluran pernafasan:

  • Infeksi jangka pendek yang menyebabkan saluran udara di dalam paru-paru membengkak dan terisi dengan lendir (bronkitis akut)
  • Kondisi mendadak seperti gejala seperti pilek, hidung tersumbat dan nyeri wajah yang tidak hilang setelah 10 sampai 14 hari (sinusitis akut).

Infeksi THT:

Komposisi

Tiap 5 ml:

  • Trimetoprim 40 mg
  • Sulfametoksazol 200 mg

Dosis

    Bayi 2 bulan ke atas:

    • Berat 10 kg: 5 ml sebanyak 1 sendok takar/12 jam
    • Berat 20 kg: 10 ml sebanyak 1 sendok takar/12 jam
    • Berat 30 kg: 15 ml sebanyak 1 sendok takar/12 jam
    • Berat 40 kg: 20 ml sebanyak 1 sendok takar/12 jam

    Penderita gangguan fungsi ginjal: Sesuai petunjuk dokter.

Aturan pakai

Sebaiknya dikonsumsi setelah makan dengan air yang cukup.

Perlu Resep

Ya

Efek Samping

  • Mual
  • Muntah
  • Ruam kulit
  • Rendahnya jumlah sel darah putih yang ada di dalam tubuh (Leukopenia)
  • Keadaan dimana jumlah trombosit dalam tubuh menurun atau berkurang dari jumlah normalnya (Trombositpenia)
  • Kondisi akut dari leukopenia (Agranulositosis)
  • Jenis kelainan darah yang disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang (Anemia aplastik)
  • Gangguan yang terjadi pada salah satu atau beberapa bagian darah sehingga memengaruhi jumlah dan fungsinya (Diskrasia darah).

Cara Penyimpanan

Simpan pada suhu di bawah 30°C. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Perhatian Khusus

  • Saat mengkonsumsi obat disarankan minum air yang banyak untuk mencegah kristaluria.
  • Pasien dengan kegagalan fungsi ginjal.
  • Hentikan pengobatan jika sejak awal ditemukan ruam kulit atau tanda-tanda efek samping lainnya.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Pasien yang hipersensitif terhadap sulfonamid atau trimetoprim.
  • Bayi 2 bulan ke bawah.
  • Penderita anemia megalobiastik.
  • Wanita hamil.
  • Ibu menyusui.
SehatQ
Belum Ada UlasanJadilah yang pertama untuk mengulas produk ini.
Nama Produk

Sanprima Suspensi 60 ml

Total

Rp 35.100

Jual dan Beli Sanprima Suspensi 60 ml dari Apotek Online Toko SehatQ

Sanprima suspensi adalah obat untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri seperti infeksi saluran pencernaan, saluran kemih, saluran pernapasan, dan infeksi THT. Obat ini merupakan obat keras yang harus menggunakan resep dokter. Sanprima suspensi mengengandung zat aktif sulfamethoxazole dan trimethoprim.

Indikasi obat:

  • Infeksi saluran kemih seperti:
  • Infeksi saluran cerna, terutama yang disebabkan oleh kuman Salmonella dan Shigella seperti:
  • Infeksi saluran napas seperti:
  • Infeksi THT seperti:

Sulfamethoxazole merupakan obat golongan sulfonamida yang bekerja langsung pada sintesis folat di dalam organisme mikroba. Sulfamethoxazole bekerja dengan menghentikan bakteri dalam memproduksi asam dihidrofolat dan trimethoprim mencegah pembentukan asam tetrahidrofolat, dimana dua hal tersebut merupakan langkah penting dalam pembentukan asam nukleat dan protein penting bagi banyak bakteri. Jika digunakan sendiri, obat ini hanya bekerja secara bakteriostatik yaitu menghambat pertumbuhan bakteri. Namun, bila digunakan dalam kombinasi sulfamethoxazole-trimethoprim, akan memblokir dua langkah dalam pembentukan senyawa kimia (biosintesis) bakteri seperti asam nukleat esensial dan protein, sehingga bersifat membunuh bakteri (bakterisidal).

Komposisi obat:

Tiap 5 ml:

  • Trimethoprim 40 mg.
  • Sulfamethoxazole 200 mg.

Dosis obat:

Anak-anak:

  • 6 minggu-5 bulan: ½ sendok takar 5 ml (2,5 ml) sebanyak 2 kali/hari.
  • 6 bulan-5 tahun: 1 sendok takar 5 ml sebanyak 2 kali/hari.
  • 6-12 tahun: 2 sendok takar 5 ml (10 ml) sebanyak 2 kali/hari.

Aturan pakai obat: Dikonsumsi dengan makanan.

Efek samping obat:

  • Mual.
    Cobalah mengonsumsi obat dengan atau setelah makan, serta hindari mengonsumi makanan yang berat atau pedas saat mengonsumsi obat ini.
  • Muntah.
    Cobalah mengonsumsi makanan yang sederhana dan jangan mengonsumsi makanan yang berat dan pedas. Cobalah mengonsumsi obat setelah makan dan cobalah minum air dalam jumlah sedikit. Jika efek samping ini terus berlanjut, hubungi dokter Anda.
  • Reaksi hipersensitivitas yang fatal pada kulit atau darah seperti Sindrom Steven-Johnson, kelainan kulit dan mukosa (toxic epidermal necrolysis) dan kelainan perkembangan sel darah (diskrasia darah).
  • Kemerahan (ruam) kulit.
  • Sumsum tulang tidak bisa memproduksi sel darah (anemia aplastik).
  • Pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan anemia megaloblastik.
  • Rendahnya jumlah sel darah putih (leukopenia).
  • Kondisi saat jumlah keping darah (trombosit) rendah (trombositopenia).
  • Kegagalan sumsum tulang dalam membentuk granulosit yang merupakan jenis sel darah putih (agranulositosis).

Kontraindikasi:

  • Penderita yang memiliki alergi terhadap golongan sulfonamid dan trimethoprim.
  • Pasien dengan kekurangan sel darah merah akibat sumsum tulang memproduksi sel darah merah abnormal (anemia megaloblastik).
  • Pasien yang mengosumsi leukovorin untuk pengobatan pneumocystis carinii pneumonia (PCP) pada pasien positif HIV.
  • Pasien dengan gangguan hati dan ginal berat.
  • Pasien dengan riwayat rendahnya keping darah (trombositopenia) akibat penggunaan trimethoprim atau sulfonamid.
  • Penderita anemia megaloblastik yang terjadi karena kekurangan folat.
  • Wanita hamil dan menyusui
  • Bayi usia 4 minggu ke bawah.
  • Pasien yang mengonsumsi clozapine.

Perhatian khusus:

  • Pasien dengan gangguan ginjal dan hati.
  • Pasien dengan kelainan darah seperti porfiria dan anemia akibat defisiensi vitamin.
  • Pasien dengan kelainan darah akibat pengobatan dengan trimethoprim dan sulfamethoxsazol.
  • Pasien dengan gangguan sumsum tulang belakang.
  • Pasien penderita ketidakseimbangan mineral dalam tubuh seperti memiliki kadar kalium yang tinggi atau kadar natrium yang rendah dalam darah.
  • Pasien dengan kadar gula darah tinggi (diabetes melitus).
  • Pasien yang memiliki berbagai alergi.
  • Pasien penderita asma.

Interaksi obat:

  • Amilorid, benazepril, dan captopril.
    Amilorid, benazepril, dan captopril dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah. Kadar kalium yang tinggi dapat berkembang menjadi kondisi yang disebut hiperkalemia, yang pada kasus parah dapat menyebabkan gagal ginjal, kelumpuhan otot, irama jantung tidak teratur, dan serangan jantung.
  • Amiodaron.
    Amiodaron dapat meningkatkan risiko terjadi detak jantung cepat di atas normal (aritmia ventrikular).
  • Metenamin.
    Metenamin dapat meningkatkan risiko terdapatnya kristal pada urine (kristaluria).
  • Fenitoin.
    Kombinasi sulfamethoxazol dan trimethoprim dapat meningkatkan waktu paruh fenitoin sehingga kada fenitoin dalam darah meningkat.
  • Anisindion.
    Anisindion dapat meningkatkan risiko perdarahan, terutama jika Anda sudah lanjut usia atau memiliki gangguan ginjal atau hati.
  • Klozapin.
    Klozapin dapat menurunkan jumlah sel darah putih, dapat memengaruhi fungsi sumsum tulang.

Kandungan utama: Sulfamethoxazole dan trimethoprim.

Kelas terapi: Antibiotik.

Klasifikasi obat: Sulfonamid.

Kategori kehamilan:

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di mana obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Informasi zat aktif:

Sulfamethoxazole bekerja mengganggu sintesis dan pembentukan asam folat bakteri melalui penghambatan pembentukan asam dihidrofolat dari asam paraaminobenzoat. Sedangkan trimethoprim bekerja menghambat perubahan asam dihidrofolat, dimana asam dihidrofolat adalah enzim yang mengaktifkan jalur metabolisme asam folat dengan cara mengubah dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Sehingga proses kerja tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan membunuh bakteri (bakterisidal).

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, sulfametsazol dan trimethoprim diketahui memiliki status:

  • Absorpsi : Mudah dan terserap dengan baik dari saluran cerna.
  • Distribusi: Tersebar luas ke dalam jaringan dan cairan tubuh, termasuk dahak, cairan lendir menyerupai plasma (aqueous humor), cairan telinga tengah, cairan prostat, cairan vagina, empedu dan cairan pada otak (serebrospinal). Melintasi plasenta dan memasuki ASI.
  • Metabolisme: Sulfamethoxazole diubah menjadi turunan N4-asetil tidak aktif melalui proses perubahan senyawa tidak toksik dan mudah larut agar mudah diekskresi (konjugasi) dan menjadi hidroksilamina melalui oksidasi. Trimethoprim mengalami metabolisme hati sekitar 10-20%.
  • Ekskresi: Dikeluarkan melalui urine sekitar 50%.

Apa yang harus dilakukan jika ada dosis terlewat?

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal minum obat sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, maka dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutnya konsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis antara yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa untuk mengonsumsi obat, cobalah untuk menggunakan pengingat (alarm) sesuai jadwal minum obat atau meminta bantuan orang lain untuk membantu mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Hubungi dokter jika Anda mengalami:

  • Terjadi kelemahan otot, perubahan mental atau mood.
  • Terjadi tanda-tanda masalah ginjal seperti perubahan jumlah urin dan adanya darah dalam urin.
  • Rasa kantuk yang ekstrim.
  • Terjadi tanda-tanda gula darah rendah seperti berkeringat tiba-tiba, gemetar, detak jantung cepat, lapar, penglihatan kabur, pusing, atau kesemutan pada tangan atau kaki.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera informasikan kepada dokter Anda. Jangan menghentikan obat tanpa persetujuan dari dokter.


Merek: Sanprima
Bentuk sediaan: Suspensi
Principal/Distributor obat: Sanbe Farma
Manufacture: Sanbe Farma
Kemasan obat: 1 botol @ 60 ml.

Indikasi/Manfaat Sanprima Suspensi 60 ml


Dosis Sanprima Suspensi 60 ml



Cara Penggunaan Sanprima Suspensi 60 ml



Cara Menyimpan Sanprima Suspensi 60 ml


Simpan pada suhu 30°C dan terlindung dari cahaya.

Kontraindikasi/Jangan Menggunakan Sanprima Suspensi 60 ml Jika:



Yang Perlu Diperhatikan Saat/Sebelum Menggunakan Sanprima Suspensi 60 ml



Efek Samping Obat Sanprima Suspensi 60 ml