Stok Habis
Licoprima Forte kaplet adalah obat untuk pengobatan infeksi bakteri seperti infeksi saluran napas.

Licoprima Forte Kaplet (10 Strip @ 10 Kaplet)


Harga Produk
Rp 0

Jumlah Produk
0

logo-prescription
Obat ResepKirimkan resep ke alamat email apotek@sehatq.comJumlah pembelian obat terbatas.SehatQ memiliki kewenangan untuk tidak memproses pesanan lebih lanjut jika resep tidak dapat diverifikasi.

Deskripsi

Licoprima Forte kaplet berfungsi untuk pengobatan infeksi bakteri seperti infeksi saluran napas, infeksi saluran kemih, dan infeksi telinga. Dosis Licoprima Forte kaplet adalah 1 hingga 2 kaplet setiap 2 kali sehari untuk dewasa dan anak-anak usia 12 tahun ke atas. Sulfamethoxazole dan trimethoprim adalah sebuah kombinasi antibiotik yang dikenal sebagai cotrimoxazole. Kombinasi kedua antibiotik tersebut selain digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit, Sulfamethoxazole dan trimethoprim juga digunakan untuk mencegah dan mengobati Pneumocystis jiroveci Pneumonia yang biasanya terjadi pada pasien dengan penurunan sistem kekebalan tubuh seperti pada pasien kanker, pasien AIDS dan pasien transplantasi.

Informasi zat aktif :

Sulfametoxazole bekerja mengganggu sintesis dan pembentukan asam folat bakteri melalui penghambatan pembentukan asam dihidrofolat dari asam paraaminobenzoat. Sedangkan trimethoprim bekerja menghambat perubahan asam dihidrofolat, dimana asam dihidrofolat adalah enzim yang mengaktifkan jalur metabolisme asam folat dengan cara mengubah dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Sehingga proses kerja tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan membunuh bakteri (bakterisidal).

Bedasarkan proses kerja obat dalam tubuh, sulfametoxazole dan trimethoprim diketahui memiliki status:

  • Absorpsi : Mudah dan terserap dengan baik dari saluran cerna. Waktu dimana obat mencapai kadar tertinggi dalam plasma (waktu puncak konsentrasi plasma) adalah 1-4 jam.
  • Distribusi: Tersebar luas ke dalam jaringan dan cairan tubuh, termasuk dahak, cairan lendir menyerupai plasma (aqueous humor), cairan telinga tengah, cairan prostat, cairan vagina, empedu dan cairan pada otak (serebrospinal). Melintasi plasenta dan memasuki ASI. Ikatan protein plasma sulfametoksazol sekitar 70% dan trimetoprim sekitar 45%.
  • Metabolisme: Sulfametoksazol diubah menjadi turunan N4-asetil tidak aktif melalui proses perubahan senyawa tidak toksik dan mudah larut agar mudah diekskresi (konjugasi) dan menjadi hidroksilamina melalui oksidasi. Trimethoprim mengalami metabolisme hati sekitar 10-20%.
  • Ekskresi: Diekskresi melalui urin sekitar 50%.Waktu yang dibutuhkan obat untuk dikeluarkan oleh tubuh dari separuh kadar awal obat (waktu paruh plasma) sulfametoksazol sekitar 6-12 jam dan trimetoprim sekitar 8-10 jam.

Kategori kehamilan dan menyusui :

Kategori D: Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat ini menimbulkan risiko pada janin manusia. Penggunaan pada ibu hamil dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diberikan melebihi risiko yang mungkin timbul pada janin. Misalnya, bila obat dibutuhkan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius, di saat obat lain tidak efektif atau tidak bisa diberikan.

Interaksi obat :

  • Amilorid, benazepril, captopril.
    Amilorid, benazepril, captopril dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah. Kadar kalium yang tinggi dapat berkembang menjadi kondisi yang disebut hiperkalemia, yang pada kasus parah dapat menyebabkan gagal ginjal, kelumpuhan otot, irama jantung tidak teratur, dan serangan jantung.
  • Amiodaron.
    Amiodaron dapat meningkatkan risiko terjadi detak jantung cepat di atas normal (aritmia ventrikular).
  • Metenamin.
    Metenamin dapat meningkatkan risiko terdapatnya kristal pada urin (kristaluria).
  • Clozapin.
    Clozapin dapat menurunkan jumlah sel darah putih, dapat memengaruhi fungsi sumsum tulang.
  • Fenitoin.
  • Kombinasi sulfametoksazol dan trimetoprim dapat meningkatkan waktu paruh fenitoin sehingga kada fenitoin dalam darah meningkat.
  • Anisindion.
    Anisindion dapat meningkatkan risiko perdarahan, terutama jika Anda sudah lanjut usia atau memiliki gangguan ginjal atau hati.

Apa yang harus dilakukan jika dosis terlewat :

  • Masih dekat dengan jadwal sebelumnya.
    Jika masih dekat dengan jadwal sebelumnya, segera konsumsi obat sesuai dosis yang terlewat.
  • Sudah mendekati jadwal berikutnya.
    Jika sudah mendekati jadwal selanjutnya, dosis yang terlewat dapat diabaikan dan lanjutkan mengonsumsi obat sesuai jadwal berikutnya.
  • Jangan menggandakan dosis yang terlewat.
    Jangan mengonsumsi total dosis yang terlewat dan dosis berikutnya, kecuali dianjurkan lain oleh dokter Anda.
  • Sering lupa mengonsumsi obat.
    Jika sering lupa mengonsumsi obat, cobalah menggunakan pengingat (alarm) atau mintalah bantuan orang lain mengingatkan jadwal minum obat Anda. Selain itu, alternatif lainnya yaitu menggunakan kotak obat harian sesuai kebutuhan Anda.

Kapan perlu menghentikan penggunaan dan menghubungi dokter :

  • Terjadi kelemahan otot, perubahan mental atau mood.
  • Terjadi tanda-tanda masalah ginjal seperti perubahan jumlah urin dan adanya darah dalam urin.
  • Rasa kantuk yang ekstrim.
  • Terjadi tanda-tanda gula darah rendah seperti berkeringat tiba-tiba, gemetar, detak jantung cepat, lapar, penglihatan kabur, pusing, atau kesemutan pada tangan atau kaki.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera informasikan kepada dokter Anda. Jangan menghentikan obat tanpa persetujuan dari dokter.

Indikasi (manfaat) Obat

Mengobati :

  • Infeksi saluran kemih (traktus urinarius) yang disebabkan oleh bakteri E. coli, Klebsiella, Enterobacter dan Proteus mirabilis.
  • Infeksi saluran pencernaan (traktus gastrointestinal) yang disebabkan oleh bakteri Salmonella dan Shigella seperti: Demam tifoid.
  • Paratifoid.
  • Peradangan usus yang disebabkan bakteri Shigella (disentri basiler).
  • Infeksi saluran pernafasan (traktus respiratorius) yang disebabkan oleh bakteri H. Influenzae dan S. Pneumoniae.
  • Infeksi telinga, hidung dan tenggorokan (THT) yang disebabkan oleh bakteri H. Influenzae dan S. Pneumoniae seperti:
  • Infeksi pada telinga bagian tengah, tepatnya pada rongga di belakang gendang telinga (otitis media) akut.
  • Peradangan sinus yang menyebabkan penumpukan lendir yang umumnya terjadi ketika pilek (sinusitis akut).

Komposisi Obat

Tiap 1 kaplet:

  • Trimethoprim 160 mg.
  • Sulfamethoxazol 800 mg.

Dosis Obat

Dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas:

  • Dosis lazim: 1 kaplet sebanyak 2 kali/hari.
  • Infeksi berat: 1½ kaplet sebanyak 2 kali/hari.
  • Kencing nanah (gonore) tidak terkomplikasi: 2 kaplet sebanyak 2 kali/hari, selama 2 hari.
  • Pengobatan jangka panjang: ½ kaplet sebanyak 2 kali/hari.
  • Pasien gangguan fungsi ginjal: Creatinine clearance 30 ml/menit ke atas: dosis lazim. Creatinine clearance 15-30 ml/menit: ½ dosis lazim. Creatinine clearance 15 ml/menit ke bawah: pemberian tidak dianjurkan.

Aturan pakai obat

Dikonsumsi sesuai petunjuk dokter.

Perlu Resep

Ya

Efek Samping Obat

  • Mual dan muntah.
  • Ruam kulit.
  • Rendahnya kadar sel darah putih (leukopenia), rendahnya kadar trombosit (trombositopenia), kegagalan pembentukan granulosit (agranulosit), kegagalan pembentukan sel darah (anemia aplastik), kelainan darah (diskrasia).
  • Pada penggunaan jangka panjang, pernah dilaporkan adanya kelainan pembentukan sel darah merah (megaloblastik anemia), dan hal ini dapat diatasi dengan pengobatan asam folinat.

Cara Penyimpanan Obat

Simpan pada suhu 20-25°C dan terlindung dari cahaya matahari langsung.

Perhatian Khusus

  • Pasien penderita ketidakseimbangan mineral dalam tubuh seperti memiliki kadar kalium yang tinggi atau kadar natrium yang rendah dalam darah.
  • Pasien dengan kelainan darah seperti porfiria dan anemia akibat defisiensi vitamin.
  • Pasien dengan kelainan darah akibat pengobatan dengan trimethoprim dan sulfamethoxazole.
  • Pasien dengan gangguan sumsum tulang belakang.
  • Pasien dengan kadar gula darah tinggi (diabetes melitus).
  • Pasien dengan gangguan ginjal dan hati.
  • Pasien yang memiliki berbagai alergi.
  • Pasien penderita asma.

Kontraindikasi (jangan dikonsumsi pada kondisi)

  • Penderita yang memiliki alergi terhadap golongan sulfonamid dan trimethoprim.
  • Penderita anemia megaloblastik yang terjadi karena kekurangan folat.
  • Pasien yang mengosumsi leukovorin untuk pengobatan Pneumocystis carinii pneumonia (PCP) pada pasien positif HIV.
  • Pasien yang mengonsumsi clozapin.
  • Pasien dengan gangguan hati dan ginal berat.
  • Wanita hamil dan menyusui Bayi usia 4 minggu ke bawah.
-
SehatQ
Produk ini belum diulasJadilah yang pertama untuk mengulas produk ini.
Nama Produk

Licoprima Forte Kaplet (10 Strip @ 10 Kaplet)